Haid dan Siklusnya

KLINIK HAID

Haid ialah perdarahan secara periodik dan siklik dari uterus, disertai pelepasan (deskuamasi) endometrium.

Panjang siklus haid ialah jarak antara tanggal mulainya haid yang lalu dan mulainya haid berikutnya. Hari mulainya perdarahan dinamakan hari pertama siklus. Karena jam mulainya haid tidak diperhitungkan dan tepatnya waktu keluar haid dari ostium uteri eksternum tidak dapat diketahui, maka panjang siklus mengandung kesalahan ± 1 hari. Panjang siklus haid yang normal atau dianggap sebagai siklus haid yang klasik ialah 28 hari, tetapi variasinya cukup luas, bukan saja antara beberaoa wanita tetapi juga pada wanita yang sama. Juga pada kakak beradik bahkan saudara kembar, siklusnya tidak terlalu sama. Panjang siklus haid dipengaruhi oleh usia seseorang. Rata-rata panjang siklus haid pada gadis usia 12 tahun ialah 25,1 hari, pada wanita usia 43 tahun 27,1 hari dan pada wanita usia 55 tahun 51,9 hari. Jadi sebenarnya panjang siklus haid 28 hari itu tidak terlalu sering dijumpai. Panjang siklus yang biasa pada manusia adalah 25-32 hari, dan kira-kira 97% wanita yang berovulasi siklus haidnya berkisar antara 18-42 hari. Jadi siklusnya kurang dari 18 hari, atau lebih dari 42 hari dan tidak teratur, biasanya sikluanya tidak berovulasi (anovulatoar).

Lama haid biasanya antara 3-5 hari, ada yang 1-2 hari diikuti darah sedkit-sedikit kemudian, dan ada yang sampai 7-8 hari. Pada setiap wanita biasanya lama haid itu tetap.

Jumlah darah yang keluar rata-rata 33,2 ± 6 hari. Pada wanita yang lebih tua  bisanya darah yang kelua lebih banyak. Pada wanita dengan anemia defisiensi besi jumah darah haidnya juga lebih banyak. Jumlah darah yang lebih dari 80 cc dianggap patologik. Darah haid tidak membeku; ini mungkin disebabkan fibrinolisis.

Kebanyakan wanita tidak merasakan gejala-gejala padawaktu haid, tetapi sebagian kecil merasa berat di panggul atau merasa nyeri (dismenorea). Usia gadis remaja pada waktu pertama kalinya mendapat haid (menarche) bervariasi lebar, yaitu antara 10-16 tahun, tetapi rata-ratanya12,5 tahun. Statistik menunjukkan bahwa usia menarche dipengaruhi faktor keturunan, keadaan gizi dan kesehatan secara umum. Menarche terjadi di tengah-tengah masa pubertas, yaitu masa peralihan dari anak-anak ke dewasa. Sesudah masa pubertas, wanita memasuki masa reproduksi, yaitu masa diana ia dapat memperoleh keturunan. Masa reproduksi ini berlangsung 30-40 tahun dan berakhir pada masa haid atau baki (menopause)

ASPEK ENDOKRIN DALAM SIKLUS HAID

Sekarang diketahui bahwa dalam proses ovulasi harus ada kerja sama antara korteks serebri, hipotalamus, hipofisis, ovarium, glandula tiroidea, glandula suprarenalis, dan kelenjar-kelanjar endokrin lainnya. Yang memegang peranan penting dalam proses tersebut adalah hubungan hipotalamus – hipofisis – ovarium (hypothalamic-hyphofisis-ovarian axis). Menurut teori neurohormonal yang dianut sekarang, hipotalamus mengawasi sekresi hormon gonadotropin oleh adenohipofisis lewat sirkulasi portal yang khusus. Hipotalamus menghasilkan faktor yang telah dapat di isolasi dan disebut Gonadotropin Releasing Hormone (GnRH) karena dapat merangsang pelepasan Luteinizing Hormone (LH) dan Follicle Stimulating Hormone (FSH) dari hipofisis. Apakah hipotalamus menghasilkan FSH-Releasing Hormone (FSH-RH) yang etrpisah dari LH-Releasing Hormone (LH-RH) belum pasti karena FSH-RH belum dapat diisolasi. Releasing hormone (RH) disebut juga Releasing Factor (RF).

Penyelidikan pada hewan menunjukkan bahwa pada hipotalamus terdapat dua pusat, yaitu pusat tonik di bagian belakang hipotalamus di daerah nukleus arquatus, dan pusat siklik di bagian depan hipotalamus di daerah suprakiasmatik. Pusat siklik mengawasi lonjalakan LH (LH-surge) pada pertengahan siklus haid yang menyebabkan terjadinya ovulasi. Mekanisme kerjanya belum jelas benar.

Siklus haid normal dapat dipahami dengan baik dengan membaginya atas dua fase dan 1 saat, yaitu fase folikular, saat ovulasi dan fase luteal. Perubahan-perubahan kadar hormon sepanjang siklus haid disebabkan oleh mekanisme umpan balik (feedback) antara hormon steroid dan hormon gonadotropin. Estrogen menyebabkan umpan balik negaitf terhadap FSH, sedangkan terhadap LH estrogen menyebabkan umpan balik negatif jika kadarya rendah, dan umpan balik positif jika kadarnya tinggi. Tempat utama umpan balik terhadap hormon gonadotropin ini mungkin pada hipotalamus.

Tidak lama setelah haid mulai, pada fase folikular dini, beberapa folikel berkembang oleh pengaruh FSH yang meningkat. Meningkatnya FSH ini disebabkan oleh regresi korpus luteum, sehingga hormon steroid berkurang . dengan berkembangnya folikel, produksi estrogen meningkat, dan ini menekan produksi FSH; folikel yang akan berovulasi melindungi dirinya sendiri terhadap atresia, sedangkan folikel-folikel lain mengalami atresia. Pada waktu ini LH juga eningkat, namun perananya pada tingkat inihanya membantu pembuatan estrogen dalam folikel. Perkembangan folikel yang cepat pada fase folikel akhir ketiga FSH mulai menurun, menunjukkan bahwa folikel yang telah masak itu bertambah peka terhadap FSH. Perkembangan folikel berakhir setelah kadar estrogen dalam plasma jelas meninggi. Estrogen pada mulanya meninggi secara berangsur-angsur, kemudian dengan cepat mencapai puncaknya. Ini memberikan umpan balik positif terhadap pusat siklik, dan dengan lonjakan LH (LH-surge) pada pertengahan siklus, mengakibatkan terjadinya ovulasi. LH yang meninggi itu menetap kira-kira 24 jam dan menurun pada fase luteal. Meknaisme turunnya Lh tersebut belum jelas. Dalam beberapa jam setelah LH meningkat, estrogen menurun dan mungkin inilah yang menyebabkan LH itu menurun. Menurunnya estrogen mungkin disebabkan oleh perubahan morfologik pada folikel. Mungkin pula menurunnya LH itu disebabkan oleh umpan balik negatif yang pendek dari LH terhadap hipotalamus. Lonjakan LH yang yang cukup tidak hanya menjamin terjadinya ovulasi; folikel hendaknya pada tingkat yang matang, agar ia dapat dirangsang untuk berovulasi. Pecahnya folikel terjadi 15-24 jam setelah lonjakan LH. Pada manusia biasanya hanya satu folikel yang matang. Mekanisme terjadinya ovulasi agaknya bukan oleh karena meningkatnya tekanan dalam folikel, tetapi oleh perubahan-perubahan degeneratif kolagen ada dinding folikel, sehingga ia menjadi tipis. Mungkin juga prostaglandin F2 memegang peranan dalam peristiwa itu.

Pada fase luteal, setelah ovulasi, sel-sel granulosa membesar, membentuk vakuola dan bertumpuk pigmen kuning (lutein); folikel menjadi korpus luteum. Vaskularisai dalam lapisan granulosa juga bertambah dan mencapai puncaknya pada 8-9 hari setelah ovulasi.

Luteinized granulosa cells dalam korpus luteum itu membuat progesteron banyak dan luteinizes theca cells membuat pula estrogen yang banyak, sehingga kedua hormon itu meningkat tinggi pada fase luteal. Mulai 10-12 hari setelah ovulasi korpus luteum mengalami regresi berangsur-angsur disertai dengan berkurangnya kapiler-kapiler dan diikuti oleh menurunnya sekresi progesteron dan estrogen. Masa hidup korpus luteum pada manusia tidak bergantung pada hormon gonadotropin dan sekali terbentuk ia berfungsi sendiri (autonom),. Namun, akhir-akhir ini diketahui untuk berfungsinya korpus luteum, diperlukan sedikit LH terus menerus. Steroidogenesis pada ovarium tidak mungkin tanpa LH. Mekanisme degenerasi korpus luteum jika terjadi kehamilan belum diketahui. Empat belas hari sesudah ovulasio, terjadi haid. Pada siklus haid normal umumnya terjadi variasi dala panjangnya siklus disebabkan oleh variasi dalam fase folikular.

Pada kehamilan, hidupnya korpus luteum diperpanjang oleh adanya rangsangan dari Human Chorionic Gonadotropin (HCG), yang dibuat oleh sinsitiotrofoblast. Rangsangan ini dimulai pada puncak perkembangan korpus luteum (8 hari pascaovulasi), waktu yang tepat untuk mencegah terjadinya regresi luteal. HCG memelihara steroidogenesis pada korpus luteum hingga 9-10 minggu kehamilan. Kemudian, fungsi itu diambil alih oleh plasenta.

Dari uraian di atas jelaslah bahwa kunci siklus haid tergantung dari perubahan-perubahan kadar estrogen. Pada pemulaan siklus haid FSH disebabkan oleh menurunnya estrogen pada fese luteal sebelumnya. Berhasilnya perkembangan folikel tanpa terjadi atresia bergantung pada cukupnya produksi estrogen oleh folikel yang berkembang. Ovulasi terjadi oleh cepatnya estrogen yang meningkat pada pertengahan siklus yang menyebabkan lonjakan LH. Hidupnya korpus luteum tergantung pula pada kadar minimum LH yang terus menerus. Jadi, hubungan antara folikel dan hipotalamus bergantung pada fungsi estrogen, yang menyampaikan pesan-pesan berupa umpan balik positif atau negatif. Segala keadaan yang menghambat produksi estrogen dengan sendirinya akan mempengaruhi siklus reproduksi yang normal.

PERUBAHAN HISTOLOGIK PADA OVARIUM DALAM SIKLUS HAID

Ovarium mengalami perubahan-perubahan dalam besar, bentuk, dan posisinya sejak bayi dilahirkan hingga masa tua seorang wanita. Di samping itu, terdapat perubahan-perubahan histologik yang disebabkan oleh rangsangan berbagai kelenjar endokrin. Pada masa pubertas ovarium berukuran 2,5-5 cm panjang, 1,5-3 cm lebar dan 0,6-1,5 tebal. Pada salah satu pinggirnya terdapat hilus, tempat keluar masuknya pembuluh-pembuluh darah dan serabut-serabut saraf. Ovarium dihubungkan oleh mesovarium dengan ligamentum latum, dan oleh ligamentum ovarii proprium dengan uterus. Permukaan ovarium ditutupi oleh satu lapis sel kuboid yang disebut epitel germinativum. Di bawahnya terdapat tunika albugenia yang kebanyakan terdiri dari serabut-serabut jaringan ikat.

Pada garis besarnya ovarium terbagi atas dua bagian, yaitu korteks dan medulla. Korteks terdiri atas stroma yang padat, dimana terdapat folikel-folikel dengan sel telurnya. Folikel dapat dijumpai dalam berbagai tingkat perkembangan, yaitu folikel primer, sekunder, dan folikel yang masak (folikel de Graaf). Juga ada folikel yang telah mengalami degenerasi yang disebut atresia folikel. Dalam korteks juga dapat dijumpai korpus rubrum, korpus luteum dan korpus albikans.

Makin muda usia wanita makin banyak folikel dijumpai. Pada bayi baru lahir terdapat ±400.000 folikel pada kedua ovarium. Rata-rata hanya 300-400 ovum yang dilepaskan selama masa reproduksi. Pada masa pascamenopause sangat jarang dijumpai folikel karena kebanyakan telah mengalami atresia. Dalam medulla ovarium terdapat pembuluh-pembuluh darah, serabut-serabut saraf, dan jaringan ikat elastis.

Pada masa kanak-kanak, ovarium boleh dikatakan masih beristirahat dan baru pada masa pubertas mulai menunaikan faalnya. Perubahan-perubahan yang terdapat pada ovarium dalam siklus haid ialah sebagai berikut. Di bawah pengaruh FSH beberapa folikel mulai berkembang; akan tetapi hanya satu yang terus tumbuh sampai menjadi matang. Pada folikel ini mula-mula sel-sel di sekitar ovum berlipat ganda dan kemudian di antara sel-sel itu timbul suatu rongga yang berisi cairan disebut liquor folikuli. Ovum sendiri terdesak ke pinggir dan terdapat di tengah tumpuka sel yang menonjol ke dalam rongga folikel. Tumpukan sel dengan ovum di dalamnya itu disebut kumulus oophorus. Antara ovum dan sel-sel sekitarnya terdapat zona pellusida. Sel-sel lainnya yang membatasi ruangan folikel disebut membrana granulosa. Dengan tumbuhnya folikel, jaringan ovarium di sekitar folikel tersebut terdesak ke luar dan membentuk dua lapisan, yaitu teka interna yang banyak mengandung pembuluh darah dan teka eksterna terdiri dari jaringan ikat yang padat. Dengan bertambah matang folikel hingga akhirnya matag benar dan oleh karena pembentukan cairan folikel makin bertambah, maka folikel makin terdesa ke permukaan ovarium, malahan menonjol ke luar. Sel-sel pada permukaan ovarium menjadi tipis dan pada suatu waktu oleh mekanisme yang belum jelas betul, folikel pecah dan keluarlah cairan dari folikel bersama-sama vum yang dikelilingi sel kumulus ooforus.

Peristiwa ini disebut ovulasi. Sel-sel granulosa yang mengelilingi ovum yang telah bebas itu disebut kororna radiata.

Sel-sel dari membrana granulosa dan teka interna yang tinggal pada ovarium membentuk korpus rubrum yang berwarna merah oleh karena perdarahan waktu ovulasi dan yang kemudian menjadi korpus luteum. Korpus luteun berwarna kuning karena mengandung zat kuning yang disebut lutein; ia mengeluarkan hormon progesteron dan estrogen.jika tidak terjadi pembuahan (konsepsi), setelah 8 hari korpus luteum mulai berdegenarasi dan setelah 14 hari mengalami atrofi menjadi korpus albikans (Jaringan parut). Korpus luteum tadi disebut korpus luteum menstruasionis. Jika terjadi konsepsi, korpus luteum dipelihara oleh hormon chorionic gonadotropin (hCG) yang dihasilkan oleh sinsitiotrofoblas dari korion. Ini dinamakan korpus luteum graviditas dan berlangsung hingga 9-10 minggu.

Pada manusia, ovulasi biasanya terjadi hanya dari satu ovarium, walapun kadang-kdang lebih dari satu folikel dapat pecah pada satu waktu yang dapat menghasilkan kehamilan kembar dizigotik. Ovum yang dilepaskan berukuran kira-kira 150m dan cepat mengalami degenerasi kecuali jika terjadi fertilisasi.

Fertilisasi biasanya terjadi dalam tuba dekat dengan fimbrium-fimbrium. Perjalanan ovum di tuba memakan waktu selama 3 hari dan implantasi blastokist pada uterus biasanya terjadi 6-7 hari setelah fertilisasi.

PERUBAHAN HISTOLOGIK PADA ENDOMETRIUM DALAM SIKLUS HAID

Pada masa reproduksi dan dalam keadaan tidak hamil, selaput lendir uterus mengalami perubahan-perubahan siklik yang berkaitan erat dengan aktivitas ovarium. Dapat dibedakan 4 fase endometrium dalam siklus haid, yaitu.

Fase menstruasi atau deskuamasi

Dalam fase ini endometrium dilepaskan dari dinding uterus disertai perdarahan. Hanya stratum basale yang tinggal utuh. Darah haid mengandung darah vena dan arteri dengan sel-sel darah merah dalam hemolisis atau aglutinasi, sel-sel epitel dan stroma yang mengalami desintegrasi dan otolisis, dan sekret dari uterus, serviks, dan kelanjar-kelenjar vulva. Fase ini berlangsung 3-4 hari.

Fase pascahaid atau fase regenerasi

Luka endometrium yang terjadi akibat pelepasan sebagian besar berangsur-angsur sembuh dan ditutup kembali oleh selaput lendir baru yang tumbuh dari sel-sel epitel endometrium. Pada waktu ini tebal endometrium ± 0,5 mm. Fase ini telah mulai sejak fase menstruasi dan berlangsung ± 4 hari.

Fase intermenstruum atau fase proliferasi

Dalam fase ini endometrium tumbuh menjadi setebal ± 3,5 mm. Fase ini berlangsung dari hari ke-5 sampai hari ke-14 dari siklus haid. Fase proliferasi dapat dibagi atas 3 subfase, yaitu:

  • Fase proliferasi dini (early proliferation phase)

Fase proliferasi dini berlangsung antara hari ke-4 samapi hari ke-7. fase ini dapat dikenal dari epitel permukaan yang tipis dan adanya regenerasi epitel, terutama dari mulut kelenjar. Kelenjar-kelenjar kebanyakan lurus, pendek dan sempit. Bentuk kelenjar ini merupakan ciri khas fase proliferasi; sel-sel kelenjar mengalami mitosis. Sebagian sediaan masih menunjukkan suasana fase menstruasi di manaterlihat perubahan-perubahan involusi dari epitel kelenjar yang berbentuk kuboid. Stroma padat dan sebagian menunjukkan aktivitas mitosis, sel-selnya berbentuk bintang dan dengan tonjolan-tonjolan anastomosis. Nukleus sel stroma relatif besar sebab sitoplasma relatif sedikit.

  • Fase proliferasi madya (mid proliferation phase)

Fase ini berlangsung antara hari ke-8 sampai hari ke-10. fase ini merupakan bentuk transisi dan dapat dikenal dari epitel permukaan yang berbentuk torak dan tinggi. Kelenjar berlekuk-lekuk dan bervariasi. Sejumlah stroma mengalami edema. Tempak banyak mitosis dengan inti berbentuk telanjang (naked nucleus)

  • Fase proliferasi akhir (late prolieration phase)

Fase ini berlangsung pada hari ke-11 sampai hari ke-14. fase ini dapat dikenal dari permukaan kelenjar yang tidak rata dan dengan banyak mitosis. Inti epitel kelenjar membentuk pseudostratifikasi. Stroma bertumbuh aktif dan padat.

Fase prahaid atau fase sekresi

Fase ini mulai sesudah ovulasi dan berlangsung dari hari ke-14 sampai ke-28. pada fase ini endometrium kira-kira tetap tebalnya, tetapi bentuk kelenjar berubah menjadi panjang, berlekuk-lekuk dan mengeluarkan getah yang makin lama makin nyata. Daam endometrium telah tertimbun glikogen dan kapuk yang kelak diperlukan sebagai makanan untuk telur yang dibuahi. Memang tujuan perubahan ini adalah untuk mempersiapkan endometrium menerima telur yang dibuahi. Fase sekresi dibagi atas:

  • Fase sekresi dini

Dalam fase ini endometrium lebih tipis daripada fase sebelumnya karena kehilangan cairan. Pada saat ini dapat dibedakan beberapa lapisan, yakni:

  1. Stratum basale, yaitu lapisan endometrium bagian dalam yang berbatasan dengan lapisan miometrium; lapisan ini tidak aktif, kecuali mitosis pada kelenjar.
  2. Stratum spongiosum, yaitu lapisan tenga berbentuk anyaman seperti spons. Ini disebabkan oleh banyaknya kelenjar yang melebar dan berkeluk-keluk dan hanya sedikit stroma di atasnya.
  3. Stratum kompaktum, yaitu lapisan atas yang padat. Saluran-saluran kelenjar sempit, lumennya berisi sekret dan stromanya edema.
  • Fase sekresi lanjut

Endometrium dalam fase ini tebalnya 5-6 mm. Dalam fase ini terdapat peningkatam dari fase sekresi dini, dengan endometrium sangat banyak mengandung pembuluh darah yang berkeluk-keluk dan kaya dengan glikogen. Fase ini sangat ideal untuk nutrisi dan perkembangan ovum. Sitoplasma sel-sel stroma bertambah. Sel stroma menjadi sel desidua jika terjadi kehamilan.

VASKULARISASI ENDOMETRIUM DALAM SIKLUS HAID

Cabang-cabang besar arteria uterina berjalan terutama dalam stratum vaskulare miometrium. Di sini sejumlah arteria radialis itu berjalan langsung ke endometrium dan membentuk arteria spiralis. Pembuluh-pembuluh darah ini memelihara stratum fungsional endometrium yang terdiri dari stratum kompaktum dan sebagian stratum spongiosum. Stratum basale dipelihara oleh arteriola-arteriola miometrium di dekatnya. Mulai dari fase proliferasi terus ke fase sekresi pembuluh-pembuluh darah dalam endometrium berkembang dan menjadi lebih berkeluk-keluk, dan segera mencapai permukaan membentuk jaringan kapiler yang banyak. Pada miometrium kapiler-kapiler mempunyai endotel yang tebal dan lumen yang kecil. Vena-vena yang berdinding tipis membentuk pleksus dan pada lapisan yang lebih dalam dari lamina propria mukosa, dan membentuk jaringan anastomosis yang tidak teratur dengan sinusoid-sinusoid pada semua lapisan.

Pleksus lainnya dari vena-vena yang besar tanpa katup terdapat di stratum vaskulare dari miometrium. Hampir sepanjang siklus haid pembuluh-pembuluh darah menyempit dan melebar secara ritmis, sehingga permukaan endometrium memucat dan berwarna merah karena penuh dengan darah, berganti-ganti. Bila tidak terjadi pembuahan, korpus luteum mengalami kemunduran yang menyebabkan kadar progesteron dan estrogen menurun. Penurunan kadar hormon ini mempengaruhi keadaan endometrium ke arah regresi, dan pada satu saat lapisan lapisan fngsionalis endometrium terlepas dari stratum basale yang di bawahnya. Peristiwa ini menyebabkan pembuluh-pembuluh darah terputus, dan terjadilah pengeluaran darah yang disebut haid.

Jika terjadi kehamilan, maka terjadilah perubahan-perubahan yang menetap pada pembuluh-pembuluh darah. Pada dinding uterus dekat dengan plasenta, dinding pembuluh darah menunjukkan penebalan dari lapisan intimanya dengan pembentuka otot-otot polos baru, sedangkan pada lapisan tengah otot-otot ditunjang oleh jaringan elastis yang cukup banyak.

DATING ENDOMETRIUM

Biopsi endometrium adalah cara terbaik untuk menentukan secara tidak langsung adanya ovulasi dan menilai efek progesteron terhadap perkembangan endometrium. Untuk ini, diperlukan kemahiran mengenali ciri-ciri permukaan endometrium, stroma, dan¾terutama sekali¾ kelenjar-kelenjar endometrium dan sel yang membatasinya pada waktu tertentu dari siklus haid. Dengan demikian, dapat ditentukan hari yang tepat dari siklus haid tersebut; hal ini disebut dating endometrium. Untuk dapat dilakukan dengan tepat pada masa sekresi, oleh karena berbeda dari fase proliferasi fase ini menunjukkan perubahan-perubahan yang nyata setiap harinya dengan perubahan morfologi tertentu.

Jika diambil panjang siklus haid 28 hari dengan perkiraan ovulasi terjadi pada hari ke-14m maka 36-48 jam setelah ovulasi belum terlihat perubahan yang menonjol pada endometrium. Karena itu, dating hari ke-14 dan ke-15 tidak berguna untuk dilakukan, dan sebaiknya baru dimulai pada hari ke-16.

Hari ke-16: Vakuola basal subnukleus terlihat banyak kelenjar. Hari ini ialah hari terakhir pseudostratifikasi barisan inti. Terlihat mitosis pada kelenjar-kelenjar dan stroma.

Hari ke-17: Nukleus dari kelenjar-kelenjar tersusun dalam satu garis, dengan sitoplasma yang homogen di atasnya dan vakuola yang besar-besar di bawahnya. Pseudostratifikasi menghilang, mitosis di kelenjar dan stroma jarang.

Hari ke-18 : sebagian vakuola mengecil karena sebagian isinya dilepaskan ke arah sitoplasma sekitar lumen, dan kemudian termasuk ke dalam lumen. Karena vakuola subnukleus ini mengecil, maka nukleus mendekati basis dari sel. Tidak terlihat mitosis pada hari ini.

Hari ke-19 : hanya sebagian kecil vakuola terlihat. Sepintas lalu gambarannya menyerupai hari ke-16, tetapi pada hari ke 19 ini dapat dilihat sekresi intraluminal, dan tidak terdapat pseudostratifikasi dan mitosis.

Hari ke-20: vakuola subnukleus hanya satu-satu terlihat. Sekresi intraluminal yang asidofil tampak jelas. Hingga waktu ini, yang jelas terlihat adalah perubahan-perubahan pada epitel kelenjar.

Hari ke-21 : Mulai terlihat perubahan-perubahan pada stroma. Sel-sel stroma mempunyai nukleus yang gelap dan padat dengan sitoplasma seperti serabut. Mulai adanya edema stroma.

Hari ke-22 : edema stroma mencapai maksimum. Sel-sel stroma tampak kecil, padat, inti hampir telanjang dan sitoplasmanya seperti di atas. Mulai terlihat arteriola spiralis dengan dindingnya yang tipis. Sekresi intraluminal aktif, tetapi mulai berkurang.

Hari ke-23 : edema stroma menetap. Perubahan yang khas ialah kondensasi stroma di sekitar arteriola spiralis. Hal ini terjadi karena pembesaran inti stroma dan bertambahnya sitoplasma, dan disebut sel pradesidua. Dapat juga dijumpai mitosis.

Hari ke-24 : Kumpulan sel-sel pradesidua tampak jelas di sekeliling arteriola. Mitosis stroma aktif, tetapi edema berkurang. Endometrium akan mulai mengalami involusi, kecuali apabilaterjadi kehamilan.

Hari ke-25 : sel-sel pradesidua mulai terdapat di bawah sel-sel epitel permukaan. Sedikit edema terdapat di sekitar arteriola. Sedikit infiltrasi limfosit terlihat pada stroma.

Hari ke-26 : sel-sel pradesidua mulai tampak mengelompok di seluruh stroma, disertai infiltrasi sel-sel leukosit polinuklear.

Hari ke-27 : Pradesidua menonjol sekitar pembuluh darah dan di bawah epitel permukaan. Jelas adanya infiltrasi sel-sel leukosit polinuklear.

Hari ke-28 : Mulai terlihat daerah dengan nekrosis (focal nekrosis) dan daerah-daerah kecil dengan perdarahan dalam stroma. Sel-sel stroma berkumpul bersama-sama. Infiltasi sel-sel leukosit polinuklear sangat banyak. Kelenjar-kelenjar keluhatan mengalami secretory exhaustion.

Sebagai kesimpulan, untuk dating endometrium pada minggu pertama fase sekresi, perlu dikenali perubahan-perubahan yang terjadi pada kelenjar-kelenjar, berupa:

  1. Mitosis yang menunjukkan proliferasi aktif dan mungkin dijumpai sejak hari ke-3 sampai hari ke-16 atau ke-17.
  2. Pseudostratifikasi inti-inti kelenjar yang dimulai dari fase post-menstruum, dan menghilang pada hari ke-17.
  3. vakuola basal subnukleus, yaitu tanda-tanda dini setelah adanya ovulasi yang terdapa pada endometrium. Biasanya vakuola basal terlihat antara hari ke-15 dan ke-19 dan glikogen mulai dilepaskan ke dalam lumen pada hari ke-19 atau ke-20. susunan inti yang khas di atas vakuola sangat jelas terlihat pada hari ke-17 dan merupakan bukti yang kuat bahwa ovulasi baru terjadi.
  4. Sekresi,terlihat dari hari ke-18 sampai hari ke-22 dengan adanya bahan-bahan sekresi dalam lumen.

Pada minggu kedua fase sekresi perlu dikenal perubahan-perubahan pada stroma berupa :

  1. Edema yang jelas terlihat antara hari ke-22 dan ke-23 mungkin sebagai usaha endometrium mengurangi halangan terhadap implantasi.
  2. reaksi pradesidua yang terlihat pada hari ke-23 dan ke-24 sekitar arteriola, mungkin sebagai pelindung agar pembuluh darah tidak pecah dan sebagai penunjang untuk pembentukan pembuluh darah baru jika kehamilan terjadi.
  3. Mitosis dan infiltrasi leukosit polinuklear.

Perubahan-perubahan di atas adalah sebagai kunci untuk dating endometrium. Untuk memperoleh hasil dating endometrium yang memuaskan, maka cara pengambilan bahan dan pengirimannya perlu diperhatikan. Biasanya biopsi endometrium diambil pada hari pertama haid untuk tujuan pemeriksaan kemandulan dan pada hari lainnya pada gangguan haid. Sebenarnya untuk dating sediaan yang berasal dari haid kurang memuaskan karena hilangnya detail morfologi yang penting untuk dating tersebut. Oleh karena itu, dalam hal ini dianjurkan biopsi pada hari ke-22 atau ke-23 (dry biopsi), tetapi untuk menghindarkan tergangguanya kehamilan yang mungkin telah terjadi, dinasihatkan agar penderita tidak mengadakan persetubuhan menjelang ovulasi, atau memakai kontrasepsi mekanis, seperti kondom. Adalah ideal jika biosi endometrium dapat dilakukan secara serial selang satu atau dua hari; tetapi, ini sukar dilaksanakan. Tambahan data-data seperti suhu basal badan atau hasil pemeriksaan hormon estrogen atau progesteron dalam darah dan urin pada hari dilakukannya biopsi endometrium sangat membantu ahli patologi memberi jawaban dating endometrium yang tepat.

Dalam pengambilan bahan, maka jaringan yang berasal dari fundus uteri saja yang dapat memberikan gambaran yang terpercaya. Bagian bawah uterus kurang sempurna mengalami perubahan-perubahan histologik sesuai dengan siklus haid. Kerokan dengan pegangan yang kuat dan tarikan mikrokuret yang banyak akan memberikan hasil yang memuaskan karena endometrium yang dikeluarkan tidak merupakan fragmen-fragmen yang kecil. Untuk ini dianjurkan pemakaian alat biopsi endometrium dari Novak atau semprit isap ginekologik. Fiksasi bahan dengan segera mempunyai arti penting untuk sempurnanya sediaan.

MEKANISME HAID

Hormon steroid estrogen dan progesteron mempengaruhi pertumbuhan endometrium. Di bawah pengaruh estrogen endometrium memasuki fase proliferasi; sesudah ovulasi, endometrium memasuki fase sekresi. Dengan menurunnya kadar estrogen dan progesteron pada akhir siklus haid, terjadi regresi endometrium yang kemudian diikuti oleh perdarahan yang dikenal dengan nama haid.

Mekanisme haid belum diketahui seluruhnya, akan tetapi sudah dikenal beberapa faktor yang, kecuali faktor hormonal, memegang peranan dalam hal ini. Yang penting adalah:

Faktor-faktor enzim :

Dalam fase proliferasi estrogen mempengaruhi tersimpannya enzim-enzim hidrolitik dalam endometrium, serta merangsang pembentukan glikogen dan asam-asam mukopolisakarida. Zat-zat yang terakhir ini ikut serta dalam pembangunan endometrium, khususnya dengan pembentukan stroma di bagian bawahnya. Pada pertengahan fase luteal sintesis mukopolisakarida terhenti, dengan akibat mempertinggi permeabilitas pembuluh-pembuluh darah yang sudah berkembang sejak permulaan fase proliferasi. Dengan demikian, lebih banyak zat-zat makanan mengalir ke stroma endometrium sebagai persiapan untuk implantasi ovum, apabila terjadi kehamilan. Jika kehamilan tidak terjadi, maka dengan menurunnya kadar progesteron, enzim-enzim hidrolitik dilepaskan dan merusakkan bagian sel-sel yang berperan dalam sintesis protein. Karena itu, timbul gangguan dalam metabolisme endometrium yang mengakibatkan regresi endometrium dan perdarahan.

Faktor-faktor vaskular :

Mulai fase proliferasi terjadi pembentukan sistem vaskularisasi dalam lapisan fungsional endometrium. Pada pertumbuhan endometrium ikut tumbuh pula arteria-arteria, vena-vena dan hubungan antaranya, seperti digambarkan di atas.

Dengan regresi endometrium timbul stasis dalam vena-vena serta saluran-saluran yang menghubungkannya dengan arteri dan akhirnya terjadi nekrosis dan perdarahan dengan pembentukan hematom, baik dari arteri maupun dari vena.

Faktor prostaglandin :

Endometrium mengandung banyak prostaglandin E2 dan F2. dengan desintegrasi endometrium, prostaglandin terlepas dan menyebabkan berkontraksinya miometrium sebagai suatu faktor untuk membatasi perdarahan pada haid.

OVULASI, INDUKSI DAN PENCEGAHAN

Pencatatan suhu basal badan (SBB)

Suhu badan diukur mulai terhentinya haid, segera setelah bangun pagi (awaking temperature) sebelum bergerak dari tempat tidur, makan, atau minum tiap hari. Termometer dimasukkan di bawah lidah atau dalam rektum selama 5 menit dan hasil pembacaannya dicatat pada kurva. Pada siklus ovulstosr suhu basal bersifat bifasis, yakni pada fase proliferasi suhu pada tingkat lebih rendah dan pada fase sekresi pada tingkat lebih tinggi. Suhu yang paling rendah ialah pada saat lonjakan LH dan naik sesudah ovulasi, disebabkan sifat termogenik hormon progesteron. Kenaikan suhu lebih dari 19 hari menunjukan kemungkinan telah terjadinya konsepsi. Selisih suhu sebelum ovulasi dengan sesudahnya paling sedikit 0.4o C. Pada siklus anovulotoar suhu basal adalah monofasis.

Pemeriksaan sitohormonal vaginal secara serial

Sel-sel epitel vagina terdiri atas sel-sel basal, parabasal, intermedier, dan superfisial. Sel-sel epitel itu dapat terkupas dan terlepas sendiri (eksfoliasi) dan keluar bersama-sama dengan getah kelenjar-kelenjar genital dan transudat. Sel-sel tersebut dipengaruhi oleh estrogen dan progesteron dan menunjukkan gambaran berbeda-beda selama siklus haid. Jadi, usap vagina yang diambil secara berturut-turut dapat ditentukan apakah ovulasi telah terjadi. Syaratnya ialah tidak boleh ada infeksi dan harus diambil dari dinding lateral vagina. Pewrnaan dilakukan dengan cara Shorr atau dengan modifikasi Papanicolau. Pada pemeriksaan dihitung 100-200 sel dan ditentukan presentase indeks kariopiknotik. Bila ditemukan 75% sel-sel superfisial dan 25% sel-sel intermedier, maka ini menunjukkan fase proliferasi; bila ditemukan 65% sel-sel intermedier dan 35% sel-sel superfisial maka ini menunjukkan fase sekresi atau pascaovulasi. Pemeriksaan sitohormonal vaginal secara serial ini tidak praktis karena itu telah lama ditinggalkan.

Penilaian Getah Serviks

Getah serviks terdiri dari air dan bermacam-macam karbohidrat, protein, asam-asam lemak, mineral dan enzim-enzim. Getah ini mengalami perubahan-perubahan fisis dan kimiawi sesuai dengan siklus haid. Pada fase proliferasi hingga saat ovulasi, di bawah pengaruh estrogen konsentrasi protein¾terutama albumin¾berkurang, sedangkan air dan konsentrasi musin bertambah berangsur-angsur sehingga viskositas berkurang. Berkurangnya viskositas getah serviks pada waktu ovulasi meningkatkan kemampuan sperma menerobos getah serviks itu. Sesudah ovulasi, getah serviks menjadi lebih kental dan keruh.

Ada dua tes sederhana yang dapat dilakukan pada siklus haid untuk menilai lendir serviks, yaitu:

  1. Spinnbarkeit, untuk melihat elastisitas getah serviks, yang maksimal pada waktu ovulasi. Jika getah serviks dari kanalis servikalis diambil dengan pinset pada waktu ini, getah tersebut tidak terputus-putus sampai sepanjang 10-20 cm.
  2. Tes daun pakis (Fern-test) : bila getah serviks dikeringkan di atas kaca objek dan dilihat di bawah mikroskop, akan tampak kristalisasi getah tersebut dalam bentuk daun pakis. Gambaran daun pakis ini bergantung pada konsentrasi NaCl dalam sekret. Konsentrasi NaCl di bawah pengaruh estrogen dan berkurang oleh progesteron. Jika setelah ovulasi masih terlihat gambaran daun pakis, maka mungkin fungsi korpus luteum kurang dari normal.

Bertambahnya getah serviks yang keluar pada saat ovulasi mengubah pula pH getah vagina. Pengukuran pH ini berulang dapat pula memberi petunjuk mengenai adanya ovulasi, tetapi pemeriksaan memerlukan alat yang peka.

Biopsi Endometrium

Biopsi endometrium biasanya dilakukan pada hari pertama haid untuk menghindarkan terganggunya kehamilan muda. Jika ada ovulasi, endometrium menunjukkan fase sekresi. Gambaran terinci menegani hal ini telah dibicarakan pada dating endometrium.

Pemeriksaan Hormonal

Pada fase proliferasi, perkembangan folikel yang baik akan menyebabkan produksi hormon estradiol meningkat. Kadar estradiol mencapai puncaknya antara hari ke-12 sampai 15 daur haid. Lonjakan LH yang mencapai puncaknya dalam waktu 18 – 24 jam setelah puncak kadar estradiol, akan menimbulkan ovulasi dalam waktu 28-36 jam setelah awal lonjakan LH. Adanya ovulasi tercermin dari perangai kadar hormon progesteron pada fase luteal tengah (hari ke 21 sampai 22 daur haid). Pemeriksaan hormon-hormon steroid tersebut dapat dilakukan dalam serum atau urin. Pengukuran dalam urin dilakukan pada urin yang dikumpulkan selama 24 jam setiap kali.

Pemeriksaan ultrasonografi (USG) folikel

Pemeriksaan USG merupakan cara pemeriksaan yang non-invasif, mudah, praktis, dan mempunyai derajat akurasi yang tinggi untuk pemantauan ovulasi. Dengan pemeriksaan USG secara serial dapat diketahui perkembangan folikel, jumlah folikel yang berkembang, kejadian ovulasi dan reaksi endometrium.

Perkembangan folikel mulai dapat dipantau dengan USG pada hari ke 8-10 daur haid. Folikel yang matang mempunyai diameter 1,8-2,8 cm. Adanya ovulasi dikenal dengan ditemukannya cairan bebas dalam rongga Douglas. Pada fase proliferasi ketebalan endometrium yang dipantau dengan USG mencapai 14,2 ± 2,8 mm dan pada fase sekresi mencapai 20,4 ± 2,3  mm.

Induksi ovulasi

Mungkin tidak ada wanita yang mengalami ovulasi pada setiap siklus haid walaupun pada usia yang paling subur sekalipun. Penyelidikan menunjukkan bahwa pada wanita dengan keluhan infertilitas terdapat 3-9 kali lebih sering siklus anovulatoar daripada wanita dengan fertilitas normal.

Dahulu disangka bahwa orgamus pada waktu koitus dapat merangsang terjadinya ovulasi pada wanita. Ternyata hal ini hanya terdapat pada binatang-binatang tertentu.

Induksi ovulasi dilakukan umumnya pada wanita yang menginginkan anak, sedangkan siklus-siklusnya anovulatoar. Oleh karena tidak adanya ovulasi itu berkaitan dengan banyak faktor, maka hasil pengobatannya tidak selalu memuaskan. Usaha untuk induksi ovulasi dapat dibagi dalam tiga kategori, yaitu umum, spesifik terhadap penyakit tertentu, dan pemberian obat-obatan yang merangsang ovulasi.

Keadaan umum penderta, baik mengenai keadaan gizinya dan kesehatan umumnya maupun kejiwaannya, harus diperbaiki untuk terjadinya ovulasi. Pemeberian obat-obatan yang memicu ovulasi tekah dilaporkan oleh Gemzel, dkk dengn mempergunakan hormon gonadotropin hipofisis (human pituitary gonadotropin, hPG).

Keberhasilan induksi ovulasi ini disusul dengan keberhasilan Lunenfeld dkk dengan mempergunakan hormon gonadotropin dari ekstrak urin wanita menopause (human menopausal gonadotropin, hMG) yang kaya hormon FSH dan LH. Pada tahun 1961 Greenbalt dkk berhasil pula memicu ovulasi dengan mempergunakan klomifen sitrat (MRH-41) disusul Gemzel dan Ross yang berhasil dengan mempergunakan suplemen hormon khorionik gonadotropin (human chorionic gonadotropin, hCG). Dewasa ini induksi ovulasi telah dapat dilakukan secara rasional dan efektif dengan berkembangnya teknik-teknik pemeriksaan hormonal.

Pada hiperprolaktinemia, maka pengobatan dengan bromkriptin dapat memberikan hasil yang  memuaskan. Akhir-akhir ini telah pula digunakan hormon pelepas gonadotropin (gonadotropin releasing hormone, GnRH) untuk induksi ovulasi. Pengobatan induksi ovulasi masa kini bukan saja bermanfaat untuk wanita infertil oleh faktor anovulatoar, tetapi amat diperlukan pada penanganan kasus-kasus infertilitas secara fertilisasi in vitro.

Pencegahan ovulasi

Pada tahun 1940 Sturgis dan Albright melaporkan bahwa suntikan estrogen dapat mencegah ovulasi. Penemuan ini menjadi dasar kontrasepsi dengan pil oral. Walaupun akhirnya diketahui bahwa estrogen, androgen, dan progesteron semuanya mempunyai khasiat mencegah ovulasi, namun pemakaiannya dalam klinik terhalang oleh karena hormon-hormon alamiah tidak efektif jika diberikan per os, dan juga menunjukkan efek-efek sampingan.

Dipublikasi di Kesehatan | Tag | 3 Komentar

Anatomi Reproduksi Wanita

Alat kandungan dibagi atas 2 bagian:

  • Alat kandungan luar (genitalia feminin externa)
  • Alat kandungan dalam (genitalia feminina interna)

ALAT KANDUNGAN LUAR

Alat kandungan luar dalam arti sempitadalah alat kandungan yang dapat diliahat dari luar bila wanita dala posisi litotomi. fungsi alat kandungan luar di khususkan untuk kopulasi (coitus)

  1. Mons Veneris ialah daerah yang menggunung di atas sympisis, yang akan ditumbuhi rambut kemaluan (pubes) apabila wanita berangkat dewasa. pada wanita rambut ini tumbuh membentuk sudut lengkung sedangkan pada pria membentuk sudut runcing keatas.
  2. Bibir besar kemaluan (labia Majora) berada pada bagian kanan dan kiri, berbentuk lonjong , yang pada wanita menjelang dewasa ditumbuhi juga oleh pubes lanjutan dari mons veneris.
  3. Bibir kecil kemaluan (Labia minora) ialah bagian dalam dari bibir besar yang berwarna merah jambu. disini dijumpai frenulum klitoris, preputium, frenulum pudendi.
  4. Klentit (Klitoris) identik dengan penis pada pria, kira-kira sebesar kacang hijau sampai cabe rawit dan ditutupi oleh frenulum klitoris. glans klitoris berisi jaringan yang dapat bereaksi, sifatnya amat sensitif karena mempunyai banyak serabuut saraf.
  5. Vulva adalah bagian alat kandungan luar yang berbentuk lonjong, berukuran panjang mulai mulai dari klitoris, kanan kiri dibatasi bibir kecil, sampai kebelakang dibatasi perineum.
  6. Vestibulum terletak dibawah selaput lendir vulva, terdiri dari bulbus vestibuli, kanan dan kiri. disini dijumpai kelenjar vestibuli major (Kelenjar Bartholini) dan kelenjar vestibulum minor.
  7. Introitus vagina adalah pintu masuk ke vagina
  8. Selaput dara (Hymen) merupakan selaput yang menutupi introitus vagina. biasanya berselubung membentuk semilunaris, anularis, tapisan, septata, atau fimbria. bila tidak berlubang disebut atresia himenalis atau himen imperforata. himen akan robek pada saat koitus apalagi setelah bersalin. sisanya disebut kurungkula himen atau sisa himen.
  9. Lubang kemih (Orifisium uretra eksterna) adalah tempat keluarnya air kemih yang terletak dibawah klitoris. di sekitar lubang kemih kanan dan kiri didapati lubang kelenjar Skene.
  10. Perineum terletak di antara vulva dan anus.

ALAT KANDUNG DALAM


  • Liang senggama (vagina) adalah liang atau saluran yang menghubungkan vulva dengan rahim, terletak diantara saluran kemih dan liang dubur. dibagian ujung atasnya terletak mulut rahim. ukuran panjang dinding  depan 8 cm dan dinding belakang 10 cm. bentuk dinding dalamnya berlipat-lipat, disebut rugae. sedangkan di tengahnya ada bagian yang lebih keras disebut Kolumna Rugarum. dinding vagina terdiri dari lapisan mukosa, lapisan oto, dan lapisan jaringan ikat. berbatasan dengan serviks membentuk ruang lengkung, antara forniks lateral kanan dan kiri, forniks anterior dan forniks posterior. suplai darah vagina di peroleh dari arteri uterina, arteri vesikalis inferior, antara hemoroidalis mediana, dan arteri pudendus interna.

fungsi penting dari vagina ialah sebagai saluran keluar untuk mengalirkan darah haid dari rahim, alat bersenggama, jalan lahir pada waktu bersalin (Partus)

  • Rahim (Uterus) adalah suatu struktur otot yang cukup kuat, bagian luarnya ditutupi oleh peritonium sedangkan rongga dalamnya dilapisi oleh mukosa rahim,  dalam keadaan tidak hamil, rahim terletak dalam rongga panggul kecil di antara kandung kemih dan dubur. rahim berbentuk seperti bola lampu pijar atau buah pear, mempunyai rongga yang terdiri dari tiga bagian besar, yaitu :
    • Badan Rahim (korpus uteri) berbentuk segitiga
    • leher rahim ( serviks uteri) berbentuk silinder, dan
    • rongga rahim (kavum uteri)

bagian rahim antara kedua pangkal tuba, yang disebut fundus uteri, merupakan bagian proksimal rahim.

besarnya Rahim berbeda-beda,  bergantung pada usia dan pernah melahirkan anak atau beluum. ukurannya kira-kira sebesar telur ayam kampung. pada nulipara ukurannya 5,5-8 cm x 3,5-4 cm x 2-2,5 cm ; pada multipara 9-9,5 cm x 5,5-6 cm x 3-3,5 cm. beratnya 40-50 gram pada nulipara dan 60-70 gram pada multipara. korpus uteri yaitu bagian utama rahim, merupakan 2/3 dari rahim. pada kehamilan bagian ini berfungsi sebagai tempat utama bagi janin untuk hidup dan berkembang.

serviks uteri terbagi menjadi dua bagian, yaitu pars supra vaginal dan pars vaginal. pars vaginal disebut porsio, terdiri dari bibir depan dan bibir belakang porsio. saluran yang menghubungkan orifisium uteri interna dan orifisium uteri eksterna, disebut kanalis servikalis, dilapisi oleh kelenjar-kelenjar serviks. bagian rahim antara serviks dan korpus disebut isthmus atau segmen bawah rahim, bagian ini penting artinya dalam kehamilan dan persalinan karena akan mengalami peregangan.

dinding rahim secara histologik terdiri dari 3 lapisan :

  1. lapisan serosa (lapisan peritonium), di luar
  2. lapisan otot (lapisan miometrium), di tenga
  3. lapisan mukosa (endometrium), di dalam

sikap dan letak rahim dalam rongga panggul terfiksasi dengan baik karena disokong dan dipertahankan oleh :

  • tonus rahim sendiri
  • tekanan intra abdominal
  • otot-otot dasar panggul
  • ligament-ligament:
    • lig. kardinal kanan dan kiri (mackenrodt)
    • lig. sakro uterina
    • lig. rotundum
    • lig. latum
    • lig. infundibulopelvikum

letak rahim dalam keadaan fisiologis adalah anterofleksi. letak-letak lainnya adalah antefleksi (tengadah kedepan), retrofleksi (tengadah ke belakang), anteversi (terdorong kedepan), retroversi (terdorong kebelakang). suplai darah rahim dialiri oleh a. uterina yang berasal dari a iliaka interna (a.hipogastrika) dan a. ovarika.

fungsi utama rahim adalah : setiap bulan berfungsi dalam siklus haid, tempat janin tuumbuh dan berkembang, berkontraksi terutama sewaktu bersalin dan sesudah bersalin.

  • Saluran telur (Tuba Falopii) adalah saluran yang keluar dari kornu rahim kanan dan kiri, panjangnya 12-13 cm, diameternya 3-8 mm. bagian luarnya diliputi oleh peritoneum viseral yang merupakan bagian dari ligamentum latum. bagian dalam saluran dilapisi silia, yaitu rambut getar yang berfungsi untuk menyalurkan telur dan hasil konsepsi.

saluran telur terdiri dari empat bagian, yaitu :

  • pars intersisialis (Intramuralis)
  • pars ismika, yang merupakan bagian tengah saluran telur yang sempit
  • pars ampularis, dimana biasanya pembuahan (konsepsi) terjadi
  • infundibulum, yang merupakan ujung tuba yang terbuka ke rongga perut. di ujung infundibulum terdapat umbai-umbai (fmbriae) yang berguna untuk menangkap sel telur (ovum), yang kemudian akan disalurkan ke dalam tuba.

fungsi saluran telur adalah : sebagai saluran telur, menangkap dan membawa ovum yang dilepaskan oleh indung telur, tempat terjadinya pembuahan (konsepsi=fertilisasi)

  • Indung telur (Ovarium)terdapat dua indung telur, masing-masing di kanan dan di kiri rahim, dilapisi oleh mesovarium dan tergantung dibelakang lig. latum. bentuk seperti buah almon, sebesar ibu jari tangan (jempol) berukuran 2,5-5 cm x 1,5-2 cm x 0,6-1 cm. indung telur ini posisinya ditunjang oleh mesovarium, lig. ovarika dan lig. infundibulopelvikum.

menurut strukturnya ovarium terdiri dari :

  • kulit (korteks) atau zona parenkimatosa, terdiri dari :
    • tunika albuginea, yaitu epitel berbentuk kubik
    • jaringan ikat di sela-sela jaringan lain
    • stroma, folikel primordial, dan folikel de Graaf
    • sel-sel Warthard
  • inti (medula) atau zona vaskulosa, terdiri dari :
    • stroma berisi pembuluh darah
    • serabut saraf
    • beberapa otot polos

pada wanita diperkirakan terdapat sekitar 100.000 folikel primer. pada kurun reproduksi, tiap-tiap bulan satu folikel atau kadang-kadang dua folikel akan matang, lalu keluar dan pecah dan muncul ke permukaan korteks.

folikel de Graaf yang matang berisi :

  • sel telur (ovum), peristiwanya disebut ovulasi
  • stratum granulosum
  • teka interna
  • teka eksterna
  • diskus poligerus
  • liquor follikuli

seumur hidupnya, seorang wanita diperkirakan akan mengeluarkan sel telur kira-kira 400 butir.

fungsi indung telur yang utama adalah : menghasilkan sel telur (ovum), menghasilkan hormon-hormon progesteron dan estrogen, ikut serta mengatur haid.

Sumber : mochtar, rustam. 1998. Sinopsis Obstetri jilid 1 Ed. 2. EGC. jakarta

Dipublikasi di Kesehatan | Tag | 11 Komentar

FIBROADENOMA MAMMAE

Fibroadenoma mammae (FAM), umumnya menyerang para remaja dan wanita dengan usia di bawah 30 tahun. Adanya fibroadenoma atau yang biasa dikenal dengan tumor payudara membuat kaum wanita selalu cemas tentang keadaan pada dirinya. Terkadang mereka beranggapan bahwa tumor ini adalah sama dengan kanker. Yang perlu ditekankan adalah kecil kemungkinan dari fibroadenoma ini untuk menjadi kanker yang ganas.

1. DEFINISI

Fibroadenoma mammae adalah tumor jinak yang paling sering terjadi pada wanita. Tumor ini terdiri dari gabungan antara kelenjar glandula dan fibrosa. Secara histologi:
intracanalicular fibroadenoma; fibroadenoma pada payudara yang secara tidak teratur dibentuk dari pemecahan antara stroma fibrosa yang mengandung serat jaringan epitel.
pericanalicular fibroadenoma; fibroadenoma pada payudara yang menyerupai kelenjar atau kista yang dilingkari oleh jaringan epitel pada satu atau banyak lapisan.
Tumor ini dibatasi letaknya dengan jaringan mammae oleh suatu jaringan penghubung.
Fibroadenoma mammae timbul akibat pengaruh kelebihan hormon estrogen.
Fibroadenoma mammae dibedakan menjadi 3 macam:
• Common Fibroadenoma
• Giant Fibroadenoma umumnya berdiameter lebih dari 5 cm.
• Juvenile fibroadenoma pada remaja.

2. PENYEBAB

Fibroadenoma ini terjadi akibat adanya kelebihan hormon estrogen. Biasanya ukurannya akan meningkat pada saat menstruasi atau pada saat hamil karena produksi hormon estrogen meningkat.

3. GEJALA

Pertumbuhan fibroadenoma mammae umumnya tidak menimbulkan rasa sakit, hanya ukuran dan tempat pertumbuhannya yang menyebabkan nyeri pada mammae. Pada saat disentuh kenyal seperti karet

4. PATOLOGI

Makroskopi: tampak bulat, elastis dan nodular, permukaan berwarna putih keabuan.
Mikroskopi: epitel proliferasi tampak seperti kelenjar yang dikelilingi oleh stroma fibroblastic yang khas (intracanalicular f. dan pericanalicular,

5. PENEGAKAN DIAGNOSA

Pada awalnya penegakan diagnosa tehadap fibroadenoma mammae ini adalah dilakukan pemeriksaan fisik, kemudian akan dilakukan mammogram (x-ray pada mammae) atau ultrasound pada mammae apabila diperlukan. Yang paling pasti dan tepat dalam diagnosa terhadap fibroadenoma mammae ini adalah penggunaan sample biopsi. Pengambilan sampel biopsi ini dapat dilakukan dengan mengiris bagian mammae atau dengan memasukkan jarum yang kecil dan panjang untuk mengambil sampel sel fibroadenoma tersebut.
Diagnosa terhadap FAM ini dapat dibuat dengan penggabungan penilaian klinis, ultrasonografi dan pengambilan sampel dengan penggunaan jarum. Penilaian klinis terhadap benjolan payudara ini harus mempertimbangkan:
• Umur:
Karsinoma: umumnya menyerang pada usia menjelang menopause
Fibroadenoma: umumnya menyerang wanita usia di bawah 30 tahun

6. TREATMENT

Karena FAM adalah tumor jinak maka pengobatan yang dilakukan tidak perlu dengan pengangkatan mammae. Yang perlu diperhatikan adalah bentuk dan ukurannya saja. Pengangkatan mammae harus memperhatikan beberapa faktor yaitu faktor fisik dan psikologi pasien. Apabila ukuran dan lokasi tumor tersebut menyebabkan rasa sakit dan tidak nyaman pada pasien maka diperlukan pengangkatan.

 

7. ANATOMI DAN FISIOLOGI

Seluruh susunan kelenjar payudara berada di bawah kulit di daerah pektoral. Terdiri dari massa payudara yang sebagian besar mengandung jaringan lemak, berlobus-lobus (20-40 lobus), tiap lobus terdiri dari 10-100 alveoli, yang di bawah pengaruh hormon prolaktin memproduksi air susu. Dari lobus-lobus, air susu dialirkan melalui duktus yang bermuara di daerah papila / puting. Fungsi utama payudara adalah laktasi, dipengaruhi hormon prolaktin dan oksitosin pascapersalinan.
Kulit daerah payudara sensitif terhadap rangsang, termasuk sebagai sexually responsive organ.

 

ASKEP TEORITIS

A. PENGKAJIAN

1. IDENTITAS
Meliputi identitas klien dan identitas penanggung jawab.
2. RIWAYAT KESEHATAN
a. Riwayat Kesehatan Dahulu
Kemungkinan klien pernah mendapat sinar radiasi pada buah dada. Ada kalanya klien pernah memperoleh terapi hormon untuk mendapatkan anak.
b. Riwayat Keseahatan Sekarang
Klien dengan post FAM akan tersa nyeri karena prosedur pembedahan, aktifitas menurun, nafsu makan menurun, stres/ takut terhadap penyakit dan harapan yang akan datang.
c. Riwayat Kesehatan Keluarga
Walaupun FAM bukan penyakit turunan tetapi angka statistik akan menunjukan bahwa FAM sering ditemukan pada wanita yang mempunyai hubungan keluarga.
3. RIWAYAT PSIKOSOSIAL
• Klien akan merasa cemas denngan penyakitnya.
• Kadang kala klien marah pada tim kesehatan terhadap tindakan operasi yang akan dilakukan.
• Kadang – kadang klien sering bertanya, mengapa saya yang yang sakit, mengapa tidak orang lain saja yang sakit.
• Ada kalanya klien tidak mau ada orang yang menjenguknya.
4. RIWAYAT SPIRITUAL
Biasanya klien dengan FAM tidak mengalami gangguan dalam menjalani ibadah.

5. PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Laboratorium
• LED meningkat.
• Serum alkali pospalse meningkat.
• Hipercalsemia.
b. Rontgen thorax dan alat lain
Untuk menentukan apakah sudah ada metastase atau belum.

 

B. KEMUNGKINAN DIAGNOSA

1. Gangguan rasa nyaman nyeri b/d efek luka pembedahan.
2. Kecemasan tingkat sedang b/d kurangnya pengetehuan tentang pentingnya operasi.
3. Takut kehilangan fungsi mammae b/d kurangnya pengetahuan tentang tindakan operasi.

 

C. PERENCANAAN

1. Gangguan rasa nyaman nyeri b/d efek luka pembedahan.
Tujuan : nyeri bisa diatasi, rasa nyaman dapat dipenuhi.
Dengan kriteria :
– Nyeri berkurang.
– Rasa nyaman terpenuhi.
Intervensi :
* Kaji faktor – faktor yang dapat menurunkan toleransi klien terhadap nyeri dan diskusikan alasan mengapa klien mengalami peningkatan nyeri.
* Alihakan perahatian klien pada waktu serangan nyeri akut, seperti : nafas dalam, membaca koran, mendiskusikan hal – hal yang menarik.
* Berikan penjelasan tentang penyebab nyeri.
* Bantu klien untuk mendapatkan posisi yang menyenangkan.
* Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat – obat analgetik.

2. Kecemasan tingkat sedang b/d kurangnya pengetehuan tentang pentingnya operasi.
Tujuan : kecemasan klien dapat teratasi.
Kriteria :
– Klien dapat mengungkapkan perasaan cemasnya secara terbuaka.
– Klien dapat bekerja sama dalam tindakan.
– Klien terlihat tenang.
Intervensi :
 Lakukan pendekatan dengan klien dan keluarga.
 Gunakan komunikasi efektif dan mudah dipahami.
 Monitor tingkat kecemasan melalui observasi.
 Pertahankan lingkungan yang aman dan tenang.
 Berikan penjelasan tentang pentingnya operasi.
 Anjurkan klien untuk mendekatkan diri pada tuhan.
3. Takut kehilangan fungsi mammae b/d kurangnya pengetahuan tentang tindakan operasi.
Tujuan : klien mengerti tentang penyakitnya dan manfaat dari operasi.
Kriteria :
– Klien dapat mengungkapkan penerimaannya tentang penyakit yang dideritanya.
– Klien tampak lebih tenang.
– Klien berpatisipasi dalam pelaksanaan tindakan.
Intervensi :
 Berikan penjelasan pada klien manfaat dari operasi.
 Perbaiki persepsi klien yang salah dengan memberikan informasi yang adekuat.
 Beri contoh pada klien orang yang pernah mengalami operasi yang sama dan mammaenya dapat berfungsi dengan baik.

 

sumber :  http://askepsolok.blogspot.com/2008/08/fibro-adenoma-mammae.html

 

Dipublikasi di Kesehatan | Tag | 15 Komentar

dari Mario Teguh

Salah satu pengkerdilan terkejam dalam hidup
adalah membiarkan pikiran yang cemerlang
menjadi budak bagi tubuh yang malas, yang
mendahulukan istirahat sebelum lelah.

Jika anda sedang benar, jangan terlalu berani dan
bila anda sedang takut, jangan terlalu takut.
Karena keseimbangan sikap adalah penentu
ketepatan perjalanan kesuksesan anda

Tugas kita bukanlah untuk berhasil. Tugas kita
adalah untuk mencoba, karena didalam mencoba
itulah kita menemukan dan belajar membangun
kesempatan untuk berhasil

Anda hanya dekat dengan mereka yang anda
sukai. Dan seringkali anda menghindari orang
yang tidak tidak anda sukai, padahal dari dialah
Anda akan mengenal sudut pandang yang baru

Orang-orang yang berhenti belajar akan menjadi
pemilik masa lalu. Orang-orang yang masih terus
belajar, akan menjadi pemilik masa depan

Tinggalkanlah kesenangan yang menghalangi
pencapaian kecemerlangan hidup yang di
idamkan. Dan berhati-hatilah, karena beberapa
kesenangan adalah cara gembira menuju
kegagalan

Jangan menolak perubahan hanya karena anda
takut kehilangan yang telah dimiliki, karena
dengannya anda merendahkan nilai yang bisa
anda capai melalui perubahan itu

Anda tidak akan berhasil menjadi pribadi baru bila
anda berkeras untuk mempertahankan cara-cara
lama anda. Anda akan disebut baru, hanya bila
cara-cara anda baru.

Dipublikasi di Rangkaian kata | Tag | Meninggalkan komentar